Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan peluncuran operasi militer slot gacor di Ukraina pada Kamis, 24 Februari 2022, dengan alasan membela separatis di wilayah timur negara tersebut dan menuduh rezim Ukraina bertanggung jawab atas pertumpahan darah. Dalam pidatonya yang disiarkan televisi, Putin menyatakan bahwa keputusan ini diambil untuk melindungi warga sipil dan menanggapi ancaman yang menurutnya datang dari Ukraina68.
Putin menegaskan bahwa Rusia tidak memiliki tujuan untuk menduduki Ukraina, melainkan bertujuan melakukan “demiliterisasi” dan “denazifikasi” negara tersebut demi melindungi orang-orang yang menjadi sasaran genosida oleh rezim Kyiv, menurut klaimnya. Ia juga memperingatkan negara-negara lain agar tidak ikut campur dalam konflik ini, dengan ancaman konsekuensi yang belum pernah mereka lihat sebelumnya jika mencoba mengganggu tindakan Rusia689.
Dalam pidatonya, Putin meminta militer Ukraina untuk meletakkan senjata dan menjanjikan bahwa tentara yang melakukannya akan dapat meninggalkan zona pertempuran dengan aman. Ia juga menuduh Amerika Serikat dan sekutunya mengabaikan permintaan Rusia untuk mencegah Ukraina bergabung dengan NATO dan memberikan jaminan keamanan kepada Moskow. Tuduhan ini menjadi salah satu alasan yang dikemukakan Putin untuk melancarkan operasi militer tersebut68.
Setelah pengumuman operasi militer, situasi di Ukraina langsung memanas dengan laporan suara ledakan di beberapa kota besar seperti Kyiv, Odesa, Kharkiv, dan Donbass. Pemerintah Ukraina merespons dengan mengumumkan keadaan darurat nasional dan menyerukan warganya yang berada di Rusia untuk segera pulang. Sementara itu, negara-negara Barat mengecam tindakan Rusia dan memberlakukan sanksi ekonomi yang ketat terhadap Moskow689.
Sejak pengumuman tersebut, Rusia terus meningkatkan aktivitas militernya di Ukraina. Pada awal April 2025, laporan menunjukkan bahwa pasukan Rusia melakukan serangan di berbagai front, termasuk di wilayah timur dan selatan Ukraina, dengan prioritas ofensif di arah Pokrovsk. Rusia juga berupaya menciptakan zona penyangga di wilayah utara Sumy dan mengintensifkan serangan rudal serta penggunaan drone untuk menargetkan infrastruktur militer dan sipil Ukraina24.
Selain itu, Rusia melakukan konskripsi besar-besaran dengan memanggil 160.000 pria untuk bergabung dengan militer sejak April hingga pertengahan Juli 2025, sebagai bagian dari upaya memperkuat kekuatan tempur di tengah konflik yang terus berlanjut. Langkah ini menunjukkan komitmen Putin untuk memperluas kapasitas militer Rusia di saat yang krusial dalam perang di Ukraina3.
Dalam konteks ini, Putin juga mengusulkan pembentukan administrasi sementara di Ukraina untuk mengatur pemilihan baru dan menggantikan rezim yang ada, sebagai bagian dari strategi konsolidasi kontrol Rusia atas wilayah yang dikuasainya. Hal ini menunjukkan niat Rusia untuk mengintegrasikan wilayah Ukraina yang diduduki ke dalam sistem pemerintahan dan sosial Rusia1.
Secara keseluruhan, pengumuman operasi militer oleh Putin menandai eskalasi besar dalam konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung sejak 2014. Tuduhan terhadap rezim Ukraina sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan dan klaim perlindungan warga sipil menjadi narasi utama yang digunakan Rusia untuk membenarkan intervensinya. Namun, tindakan ini memicu kecaman internasional dan memperdalam krisis kemanusiaan serta ketegangan geopolitik di kawasan tersebut689.
Ringkasan poin utama:
-
Putin mengumumkan operasi militer di Ukraina pada 24 Februari 2022 untuk membela separatis dan menuduh rezim Ukraina bertanggung jawab atas kekerasan68.
-
Rusia menegaskan tujuan operasi adalah demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina, bukan pendudukan69.
-
Putin memperingatkan negara lain agar tidak ikut campur, dengan ancaman konsekuensi berat68.
-
Ukraina mengumumkan keadaan darurat dan mendapat dukungan internasional, sementara Barat menjatuhkan sanksi ke Rusia689.
-
Rusia meningkatkan serangan militer dan melakukan konskripsi besar-besaran untuk memperkuat pasukan234.
-
Putin mengusulkan administrasi sementara di Ukraina untuk mengatur pemilihan baru dan mengganti rezim yang ada1.
-
Konflik ini memperdalam krisis kemanusiaan dan ketegangan geopolitik di kawasan Eropa Timur.

